Jumat, 04 Mei 2012
Bab 09 - Kenaikan Sri Krishna
Dharmaraja yang amat sedih atas kepergian paman dan bibinya, Dhritarastra dan Gandhari, tertimpa penderitaan lain yang tidak tertahankan bagaikan jarum yang ditusukkan di dalam kuku. Kemanapun berpaling, ia mulai melihat berbagai pertanda buruk dalam kerajaannya. Ia melihat noda-noda kebohongan, kekejaman, dan ketidakadilan dalam perbuatan orang-orang di sekitarnya. Pertanda buruk menghadang setiap langkahnya dan mengacaukan pandangannya.
Akibatnya, ia dicekam kesedihan yang tidak dapat dijelaskan. Parasnya memucat dirongrong kekhawatiran. Ia selalu resah dan cemas. Adik-adiknya melihat hal ini dan karena mereka sendiri juga menjadi gelisah maka Bhima, Nakula dan Sahadewa menemui kakaknya yang tertua dan mengutarakan keinginan mereka untuk mengetahui penyebab kemurungannya yang aneh. Mereka berdiri di hadapannya dengan tangan tertangkup dan bertanya, “Raja dan junjungan! Dari hari ke hari kami lihat roman muka Kakanda makin suram; tampaknya Kakanda tenggelam dalam kesedihan yang tidak dapat diduga,
Bab 08 - Dhritarastra Berubah
Dhritarastra dan Gandhari tiba di hutang bersama dengan Widura. Widura mencari tempat yang sesuai untuk melakukan tirakat. Ia juga memberi mereka petunjuk tentang cara-cara terbaik untuk mencari kesadaran diri sejati. Mereka melewatkan hari demi hari dalam pergaulan serta pikiran yang suci.
Sementara itu di Hastinapura begitu matahari terbit, Dharmaraja bangun, menyelesaikan ritual pembersihan diri, lalu melakukan upacara pemujaan pada api keluarga. Ia memberikan sedekah harian kepada orang-orang miskin seperti biasanya. Setelah itu ia berjalan ke istana Dhritarastra, kakak ayahnya, seperti biasa, karena ia tidak pernah memulai tugas harian tanpa terlebih dahulu bersujud di kaki pamannya.
Bab 07 - Nasihat Widura
Widura melanjutkan peringatannya kepada Dhritarashtra, “kakanda telah mencapai usia selanjut ini, tetapi tetap saja kakanda menempuh hidup seperti anjing tanpa merasa malu atau ragu. Mungkin Kakanda tidak merasa malu mengenai hal itu, tetapi saya malu. Cih, tidak tahu malu! Cara kanda melewatkan hari-hari Kanda lebih jelek daripada burung gagak.”
Dhritarashtra tidak dapat menahannya lagi. Ia berseru, “Oh, cukup, cukup. Berhentilah. Adinda menyiksa saya sampai mati. Ini bukanlah kata-kata yang layak dikemukakan di antara saudara sendiri. Mendengar ucapan Adinda, saya merasa Adinda bukan Widura adik saya. Ia tidak akan menegur saya demikian kejam. Sekarang saya tinggal dengan Dharmaraja, apakah ia orang yang tidak dikenal? Apakah saya berlindung pada orang asing? Apa yang Adinda katakan ini? Mengapa begitu kasar? Dharmaraja merawat saya dengan kasih sayang dan perhatian besar, bagaimana Adinda dapat menyatakan saya menempuh hidup seperti seekor anjing atau gagak? Berdosalah bila Adinda memiliki gagasan semacam itu. Memang nasib saya begini, itu saja.” Dhritarashta menunduk dan mengeluh.
Bab 06 - Kunjungan Widura
Di dalam istana Widura menanyakan kesejahteraan setiap sanak saudaranya. Kemudian Kunti Dewi, ibu suri, masuk dan memandangnya dengan rasa sayang sambil berkata, “Akhirnya kami dapat melihat anda, oh Widura!” Ia tidak dapat berbicara lagi.
Setalah beberapa waktu dilanjutkannya “Bagaimana anda dapat tinggal demikian lama di tempat yang jauh, mengabaikan anak-aak yang telah anda asuh dengan penuh kasih dan saya sendiri serta orang-orang lain yang demikian menghormati anda? Karena doa restu andalah, maka anak-anak saya sekarang menjadi penguasa negeri ini. Dimana mereka akan berada kini seandainya dahulu anda tidak menyelamatkan mereka dalam berbagai keadaaan genting? Kami telah menjadi sasaran berbagai malapetaka, tetapi bencana yang terbesar adalah kepergian anda jauh dari kami. Itulah yang paling mempengaruhi kami. Bahkan kami sudah tidak mempunyai harapan untk bisa melihat anda lagi. Kini hati kami bersemi kembali. Harapan dan hasrat yang dicerai berikan oleh keputusasaan telah terhimpun kembali. Hari ini sempurnalah kegembiraan kami. Oh, alangkah membahagiakanya hari ini!” Kunti duduk sebentar menyeka air matanya.
Bab 05 - Yajna dan kedatangan Widura
Dharmaraja menerima nasihat Waasudeva (Sri Krishna) dan restu Wyasa. Diutusnya saudara- saudaranya beserta bala tentara untuk mengambil emas yang telah dibuang oleh para brahmin. Mereka berangkat setelah menyucikan diri dengan makan hidangan yang telah dipersembahkan kepada Tuhan. Mereka menemukan timbunan emas yang dahulu telah dihadiahkan oleh Maharaja Marut kepada para pendeta pada penutupan upacara pengurbanan. Emas itu telah dibuang oleh para pendeta di sepanjang sisi jalan yang mereka lalui ketika pulang. Bala tentara Pandawa mengumpulkan emas ini dan mengirimkannya dengan unta, gajah, kereta dan gerobak. Mereka memerlukan waktu beberapa hari untuk sampai ke Hastinapura dengan seluruh muatan itu. Mereka membongkar emas itu di tengah sambutan dan sorak-sorai rakyat.
Warga kerajaan mengagumi keberhasilan ekspedisi tersebut; mereka memuji-muji kemujuran Pandawa. Mereka menyambut para pangeran yang kembali ke kota membawa emas tersebut dengan berseru, “Jaya, jaya,” hingga suara mereka serak, sambil meloncat-loncat dan menari dengan sangat gembira. Mereka saling membicarakan kebesaran dan keindahan upacara pengurbanan yang akan diselenggarakan dengan emas tersebut.
Bab 04 - Yajna untuk menebus dosa
Judul Buku, Pancaran Bhagavata
Oleh, Bhagawan Sri Sathya Sai Baba
Upacara pemberian nama sang pangeran menimbulkan kegembiraan yang besar pada warga kerajaan, penghuni istana, dan anggota keluarga raja. Tetapi Yudhistira, sang sulung diantara Pandawa bersaudara, merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu lebih dari itu; ia tidak merasa puas dengan sekadar pesta yang meriah. Sore itu juga ia memanggil para sesepuh, cendikiawan, pendeta, para raja bawahannya, dan tokoh-tokoh masyarakat agar datang menghadiri rapat; ia mohon agar Sri Krishna memimpin pertemuan itu dan menganugerahkan kegembiraan kepada semuanya. Maharesi Wyasa dan Resi Kripa juga hadir.
Yudhistira datang ke ruang sidang, berdiri diam beberapa saat di hadapan hadirin, kemudian bersujud di kaki Bhagawan Krishna dan Maharesi Wyasa. Setelah itu ia berpaling kepada para raja, cendikiawan, dan
Oleh, Bhagawan Sri Sathya Sai Baba
Upacara pemberian nama sang pangeran menimbulkan kegembiraan yang besar pada warga kerajaan, penghuni istana, dan anggota keluarga raja. Tetapi Yudhistira, sang sulung diantara Pandawa bersaudara, merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu lebih dari itu; ia tidak merasa puas dengan sekadar pesta yang meriah. Sore itu juga ia memanggil para sesepuh, cendikiawan, pendeta, para raja bawahannya, dan tokoh-tokoh masyarakat agar datang menghadiri rapat; ia mohon agar Sri Krishna memimpin pertemuan itu dan menganugerahkan kegembiraan kepada semuanya. Maharesi Wyasa dan Resi Kripa juga hadir.
Yudhistira datang ke ruang sidang, berdiri diam beberapa saat di hadapan hadirin, kemudian bersujud di kaki Bhagawan Krishna dan Maharesi Wyasa. Setelah itu ia berpaling kepada para raja, cendikiawan, dan
Bab 03 - Bocah Parikshit dan ramalan tentang dirinya
Aduh! Apakah akhirnya ia harus mengalami nasib yang tragis ini?
Apakah ini merupakan ganjaran bagi segala kebaikan yang kelak
dilakukannya? Setelah menempuh hidup yang bajik selama bertahun-tahun,
dapatkan akibatnya tiba-tiba berubah menjadi kematian yang malang ini?
Ada dikatakan bahwa mereka yang mati tenggelam, mereka yang menemui ajal
karena jatuh dari pohon, dan mereka yang meninggal karena digigit ular,
tidak baik kehidupannya di akhirat kelak. Semua ini dianggap ebagai
kematian yang sial, mereka yang menemui ajalnya seperti itu akan menjadi
hantu dan akan menderita, demikian kata orang. Mengapa anak ini harus
mengakhiri hidupnya seperti itu? Oh, alangkah mengerikan. Oh, alangkah
tidak adilnya semua ini!” , ratap Yudhistira sambil menggigit bibirnya
menahan sedih.
Bab 02 - Kelahiran seorang Bhagavata
BAB 2
KELAHIRAN SEORANG BHAGAVATA
judul buku ; Pancaran Bhagavata
oleh ; Bhagawan Sri Sathya Sai Baba
Maharaja Parikshit adalah putra Abimanyu yang telah mencapai surga para pahlawan. Ketika Parikshit masih berwujud janin yang tumbuh di rahim Uttara, ia melihat anak panah tajam yang dilepaskan oleh Aswathama meluncur ke arahnya. Senjata itu memancarkan percikan keganasan dan teror, siap membinasakannya, tetapi pada saat itu juga tampaklah tokoh yang cemerlang dan sangat mempesona bersenjatakan cakra yang dahsyat. Beliau menghancurkan panah maut itu menjadi seratus keping. Janin ninggrat itu diliputi kekaguman dan rasa terimakasih.
BAB I : Bhagavata
Sebutan Bhagavata dapat digunakan untuk setiap kisah pengalaman orang-orang yang telah menjalin hubungan dengan Tuhan dan dengan mereka yang saleh (Bhagawan dan bakta). Tuhan mengambil berbagai wujud dan memerankan berbagai kegiatan. Nama Bhagavata diberikan pada uraian pengalaman orang-orang yang telah menyadari Tuhan dalam aneka wujud tersebut dan juga pada kisah pengalaman mereka yang telah memperoleh karunia Beliau serta terpilih menjadi alat Beliau.
Karya agung yang terkenal ini (Bhagavata) dihormati oleh para ahli Weda. Kitab ini merupakan obat mujarab yang menyembuhkan berbagai penyakit fisik, mental, dan spiritual. Bhagavata sarat dengan kemanisan nektar dan bersinar dengan kecrmelangan serta keindahan Tuhan.
Makna Banten & Canang Sari di dalam persembahyangan umat Hindu di Bali
SARANA upacara atau bebantenan di Bali, sesungguhnya tidak hanya hiasan
belaka. Tetapi, di dalamnya sarat makna simbolis. Pada umumnya, sarana
upakara tersebut sebagai media bagi umat untuk menghubungkan diri dengan
Sang Pencipta.
![[Image: 148419207bbf8b16c06c03c64ac1c6773a5c9bbc.jpg]](https://lh3.googleusercontent.com/blogger_img_proxy/AEn0k_v__oIERkqEMnUHZQlDYpdLeO3T2XiduBQcVtdDWFBSivu7wp3xj2hrE5hkUzG62n1xH5zzC6shyd6qKwagQzoExi9BJ0smgmxhLUcLAq_sZ16xl9bGIUOPBXsDAptEqDIMfq-GieXMDdWAsPq87f2EICmKF5k28L5GvoyZNw=s0-d)
Wakil Ketua Parisada Bali Drs. I Gusti Ngurah Sudiana menyambut baik keinginan umat untuk membuat museum banten. Tetapi, bentuk-bentuk bebantenan yang dipajang di museum itu mesti dilengkapi dengan penjelasan makna dan sekaligus bahan-bahannya. Dengan demikian, umat atau orang asing akan makin paham akan makna di balik bebantenan tersebut. Hal itu juga sekaligus menghilangkan istilah anak mula keto(memang seperti itu) di kalangan umat.
Wakil Ketua Parisada Bali Drs. I Gusti Ngurah Sudiana menyambut baik keinginan umat untuk membuat museum banten. Tetapi, bentuk-bentuk bebantenan yang dipajang di museum itu mesti dilengkapi dengan penjelasan makna dan sekaligus bahan-bahannya. Dengan demikian, umat atau orang asing akan makin paham akan makna di balik bebantenan tersebut. Hal itu juga sekaligus menghilangkan istilah anak mula keto(memang seperti itu) di kalangan umat.
Langganan:
Postingan (Atom)