Kamis, 07 Maret 2013
PURA RATU PASEK
Pura Ratu Pasek.
Pura ini terletak di sebelah timur Pura Penataran Agung. Ketika hendak sembahyang ke Pura Penataran Agung Besakih,bagi warga pasek terlebih dahulu melaksanakan persembahyangan di Pura Ratu Pasek. Di dalam pura ini terdapat beberapa buah bangunan pelinggih, stana pemujaan yaitu :
1. Meru Tumpang 7 ( atap bertingkat 7 ),ditujukan sebagai stana parhyangan Mpu Semeru. Beliau merupakan salah satu Putra dari (sugra pakulun) Bhatara Hyang Gnijaya yang berstana di Pura Lempuyang Luhur. Sementara saudara beliau yang lain seperti Mpu Ganha di Dasar Buana Gelgel. Mpu Gnijaya di Lempuyang Madya, Mpu Kuturan di Silayukti.sedangkan Mpu Beradah di Jawa ( Pura Tanjung Sari.).
2. Meru Tumpang 3 ( atap tingkat 3 ) ,ditujukan sebagai parhyangan pesimpangan Mpu Gnijaya ( beliau yang berstana di Lempuyang Madya).
Piodalan atau puja wali di pura ini dilaksanakan setiap hari Purnamaning sasih Kawulu.Melihat dari bangunan meru yang dibangun, pura ini merupakan atau menjadi penyungsungan keturunan Mpu Semeru dan Mpu Gnijaya.
Senin, 04 Maret 2013
Senin, 14 Januari 2013
Minggu, 13 Januari 2013
Makna Gelang Tridatu
Gelang Tridatu terbuat dari tiga benang berwarna Merah,Hitam dan Putih.
Gelang Tridatu bukanlah Jimat atau bendah bertuah lainnya tapi merupakan
simbol dari Dewa Trimurti(Merah simbol Dewa Brahma, Hitam simbol Dewa
Wisnu dan Putih adalah simbol Dewa Siwa). Jadi jika anda berpikir bahwa
gelang tridatu adalah jimat itu sama sekali tidak benar.
Tridatu adalah simbol dari Hyang Widhi
dengan manifestasinya sebagai Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa.
Biasanya dibuat oleh sulinggih di Pura Dalem Ped,
Nusa Penida untuk para pemedek yang tangkil ke pura tersebut. Selain
sebagai lambang Tri Kona(Kelahiran, Hidup dan Kematian) dengan
menggunakan tridatu diharapkan kita selalu ingat dengan kebesaran Tuhan
sebagai maha pencipta, pemelihara dan pelebur.
Banten Pasupati dan Mantra Pasupati di Tumpek Landep
Pasupati (Pāśupatāstra) dalam kisah Mahabharata adalah panah sakti yang
oleh Batara Guru dianugerahkan kepada Arjuna setelah berhasil dalam laku
tapanya di Indrakila yang terjadi saat Pandawa menjalani hukuman buang
selama dua belas tahun dalam hutan. Panah yang berujung bulan sabit ini
pernah digunakan oleh Batara Guru saat menghancurkan Tripura, tiga kota
kaum Asura yang selalu mengancam para dewa. Dengan panah ini pula Arjuna
membinasakan Prabu Niwatakawaca. Dalam perang Bharatayuddha, Arjuna
menggunakan panah ini untuk mengalahkan musuh-musuhnya, antara lain
Jayadrata dan Karna yang dipenggal nya dengan panah ini.
Makna Pasupati
Upacara Pasupati bermakna pemujaan memohon berkah kepada Hyang Widhi
(Sang Hyang Pasupati) untuk dapat menghidupkan dan memberikan kekuatan
magis terhadap benda-benda tertentu yang akan dikeramatkan. Dalam
kepercayaan umat Hindu (ajaran Sanatana Dharma )
di Bali, upacara Pasupati
Makna filosofis dalam menggunakan Bija atau mebija
Mawija atau mabija dilakukan setelah usai mathirta, yang merupakan
rangkaian terakhir dan suatu upacara persembahyangan, kita akan
dibagikan butiran-butiran beras yang kita tempelkan di kening dan di
leher yang disebut bija. Bija atau disebut dengan wija adalah komponen
penting yang terdapat pada canang. Suatu hal sesederhana memakai bija
pun sesungguhnya memiliki makna yang luas dalam ajaran Veda. Bija pada
umumnya adalah beras yang dicuci dengan air bersih lalu direndam dalam
air cendana, kemudian diberi pewarna (biasanya menggunaka kunyit -
Curcuma Domestica VAL) agar berwarna kuning maka disebutlah bija kuning.
Dalam perkembangannya, terkadang bija hanya dibuat dengan beras yang
dicuci dengan air bersih saja. Pemakaian bija dilakukan setelah menerima
tirtha atau amertha pada akhir proses persembahyangan. Pada
kenyataanya, setiap umat Hindu di Indonesia mempunyai cara sendiri alam
menggunakan bija. Wija atau bija diusahakan beras galih yaitu beras yang
utuh, tidak patah (aksata).
Jumat, 14 Desember 2012
Leluhur Orang Bali Mula (Bali Aga) Penduduk Asli Pulau Bali
Pulau Bali adalah pulau dengan segala keunikkan kekayaan alam, budaya
dan pesonanya telah tersohor ke seluruh dunia. Penduduk yang tinggal di
Bali mayoritasnya adalah pemeluk agama Hindu dengan adat istidat
leluhur yang sangat kental didalamnya. Tidak jarang upacara-upacara
yang diadakan di Bali menarik minat wisatawan khususnya wisatawan
mancanegara yang baru pertama kali melihatnya. Namun pernahkah terbersit
siapa yang pertama kali menempati pulau dengan sejuta pesona ini?
Mengapa agama Hindu begitu berkembang pesat didalamnya.
Diperkirakan yang menjadi cikal bakal manusia yang menempati pulau Bali adalah bangsa Austronesia dilihat dari peninggalan-peninggalan yang tersebar di Bali berupa alat-alat batu seperti kapak persegi. Bangsa Austronesia berasal dari daerah Tonkin, Cina kemudian mengarungi laut yang sangat luas menggunakan kapal bercadik. Kejadian ini terjadi kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi.
Bangsa Austronesia memiliki kreasi seni yang sangat tinggi mutunya. Terbukti dari hiasan-hiasan nekara dan sarkofagus , peti mayat lengkap dengan bekal kuburnya yang masih tersimpan rapi di Bali. Bangsa ini juga memiliki kehidupan yang teratur dan membentuk suatu persekutuan hukum yang dinamakan thana atau dusun yang terdiri dari beberapa thani atau banua. Persekutuan hukum inilah yang diperkirakan menjadi cikal-bakal desa-desa di Bali. Bangsa inilah yang kemudian menurunkan penduduk asli pulau Bali yang disebut Orang Bali Mula atau ada juga yang menyebut Bali Aga.
Ketika itu orang-orang Bali Mula belum beragama. Mereka cuma menyembah leluhur yang mereka sebut Hyang. Dari segi spiritual mereka masih hampa, hal ini berlangsung sampai abad ke empat sesudah masehi. Melihat pulau Bali yang masih terbelakang maka penyiar Agama Hindu berdatangan ke pulau ini. Selain untuk mengajarkan agama mereka juga ingin memajukan Bali dalam segala sektor kehidupan. Maka muncullah seorang Resi ke Bali yang bernama Resi Maharkandya. Resi Maharkandya dalam suatu pustaka dikatakan berasal dari India.
Nama Maharkandya sendiri bukanlah nama perorangan namun nama suatu perguruan yang mempelajari dan mengembangkan ajaran-ajaran gurunya. Resi Maharkandeya menolak semua marabahaya yang menghadang setelah diberikan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa untuk melakukan upacara penanaman lima logam yang disebut panca datu di daerah yang disebut dengan nama Wasuki yang berkembang menjadi Basuki yang artinya keselamatan. Disinilah awal mula kehidupan harmonis antara masyarakat pendatang yang membawa ajaran agama Hindu berakulturasi dengan orang Bali Mula yang menjadi penduduk asli pulau Bali.
Di daerah Basuki ini akhirnya dibangun sebuah pura yang terbesar di Asia Tenggara yakni Pura Besakih. Setelah kerajaan Majapahit runtuh, pemeluk agama Hindu terdesak oleh datangnya agama Islam yang menduduki pulau Jawa sehingga harus menghindar dan pindah ke pulau Bali. Sehingga makin banyak orang yang tadinya berasal dari Jawa akhirnya bermukim dan mengembangkan agama Hindu sampai begitu pesatnya di Pulau Bali.
Perbedaan yang mencolok antara Bali Mula dengan Bali yang datang dari Majapahit tampak dari upacara kematiannya. Orang Bali Mula melaksanakan upacara kematiannya dengan cara di kubur atau ditanam, yang disebut beya tanem. Sedangkan untuk orang Bali yang pendatang biasanya melakukan upacara kematian dengan cara dibakar. Hal ini dapat dijelaskan karena Bali Mula merupakan keturunan Austronesia dari jaman perundagian. Tradisi ini sudah begitu melekat dan sulit untuk dirubah.
Sekarang tempat dimana kita menemukan komunitas Bali Mula atau Bali Aga adalah di Desa Tenganan yang dapat diakses dengan mudah yakni hanya 5 kilometer dari daerah Candi Dasa Bali. Jika ingin yang lebih ekstrim dan pedalaman bisa mengunjungi Desa Trunyan di pinggir Danau Bratan yang terkenal dengan pohon Banyan yang mengeluarkan harum yang khas sehingga mayat-mayat disana yang notabene tidak dibakar dan dibiarkan begitu saja diletakkan dekat pohon tersebut tidak menimbulkan bau sama sekali.
Diperkirakan yang menjadi cikal bakal manusia yang menempati pulau Bali adalah bangsa Austronesia dilihat dari peninggalan-peninggalan yang tersebar di Bali berupa alat-alat batu seperti kapak persegi. Bangsa Austronesia berasal dari daerah Tonkin, Cina kemudian mengarungi laut yang sangat luas menggunakan kapal bercadik. Kejadian ini terjadi kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi.
Bangsa Austronesia memiliki kreasi seni yang sangat tinggi mutunya. Terbukti dari hiasan-hiasan nekara dan sarkofagus , peti mayat lengkap dengan bekal kuburnya yang masih tersimpan rapi di Bali. Bangsa ini juga memiliki kehidupan yang teratur dan membentuk suatu persekutuan hukum yang dinamakan thana atau dusun yang terdiri dari beberapa thani atau banua. Persekutuan hukum inilah yang diperkirakan menjadi cikal-bakal desa-desa di Bali. Bangsa inilah yang kemudian menurunkan penduduk asli pulau Bali yang disebut Orang Bali Mula atau ada juga yang menyebut Bali Aga.
Ketika itu orang-orang Bali Mula belum beragama. Mereka cuma menyembah leluhur yang mereka sebut Hyang. Dari segi spiritual mereka masih hampa, hal ini berlangsung sampai abad ke empat sesudah masehi. Melihat pulau Bali yang masih terbelakang maka penyiar Agama Hindu berdatangan ke pulau ini. Selain untuk mengajarkan agama mereka juga ingin memajukan Bali dalam segala sektor kehidupan. Maka muncullah seorang Resi ke Bali yang bernama Resi Maharkandya. Resi Maharkandya dalam suatu pustaka dikatakan berasal dari India.
Nama Maharkandya sendiri bukanlah nama perorangan namun nama suatu perguruan yang mempelajari dan mengembangkan ajaran-ajaran gurunya. Resi Maharkandeya menolak semua marabahaya yang menghadang setelah diberikan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa untuk melakukan upacara penanaman lima logam yang disebut panca datu di daerah yang disebut dengan nama Wasuki yang berkembang menjadi Basuki yang artinya keselamatan. Disinilah awal mula kehidupan harmonis antara masyarakat pendatang yang membawa ajaran agama Hindu berakulturasi dengan orang Bali Mula yang menjadi penduduk asli pulau Bali.
Di daerah Basuki ini akhirnya dibangun sebuah pura yang terbesar di Asia Tenggara yakni Pura Besakih. Setelah kerajaan Majapahit runtuh, pemeluk agama Hindu terdesak oleh datangnya agama Islam yang menduduki pulau Jawa sehingga harus menghindar dan pindah ke pulau Bali. Sehingga makin banyak orang yang tadinya berasal dari Jawa akhirnya bermukim dan mengembangkan agama Hindu sampai begitu pesatnya di Pulau Bali.
Perbedaan yang mencolok antara Bali Mula dengan Bali yang datang dari Majapahit tampak dari upacara kematiannya. Orang Bali Mula melaksanakan upacara kematiannya dengan cara di kubur atau ditanam, yang disebut beya tanem. Sedangkan untuk orang Bali yang pendatang biasanya melakukan upacara kematian dengan cara dibakar. Hal ini dapat dijelaskan karena Bali Mula merupakan keturunan Austronesia dari jaman perundagian. Tradisi ini sudah begitu melekat dan sulit untuk dirubah.
Sekarang tempat dimana kita menemukan komunitas Bali Mula atau Bali Aga adalah di Desa Tenganan yang dapat diakses dengan mudah yakni hanya 5 kilometer dari daerah Candi Dasa Bali. Jika ingin yang lebih ekstrim dan pedalaman bisa mengunjungi Desa Trunyan di pinggir Danau Bratan yang terkenal dengan pohon Banyan yang mengeluarkan harum yang khas sehingga mayat-mayat disana yang notabene tidak dibakar dan dibiarkan begitu saja diletakkan dekat pohon tersebut tidak menimbulkan bau sama sekali.
Seluk Beluk Caru dan Tawur
Pendahuluan
Dalam Bahasa Sanskerta, caru artinya
cantik, indah, harmonis; dalam Bahasa Kawi, caru artinya kurban. Sebagai
kata kerja, mecaru artinya menghaturkan kurban untuk memperindah dan
mengharmoniskan sesuatu. Dalam arti yang lebih tegas, mecaru adalah
suatu upacara kurban yang bertujuan untuk mengharmoniskan bhuwana agung
dan bhuwana alit agar menjadi baik, indah, lestari.
Dengan demikian, upacara mecaru adalah aplikasi dari filosofi Trihitakarana, seperti yang disebutkan dalam Lontar Pakem Gama Tirta,
agar terjadi keharmonisan dalam hubungan antara manusia dengan
Sanghyang Widhi (Parhyangan), hubungan antara manusia dengan sesama
manusia (Pawongan) dan hubungan antara manusia dengan alam (Palemahan).
Palinggih Hyang Kompiang, Kawitan, Paibon, Padarmaan
Tattwa, Kedudukan, dan Perbedaannya
Pulau Bali pernah mengalami musibah
besar di mana rakyatnya melarat karena bencana alam yang sambung
menyambung, tanaman pangan selalu rusak karena diserang hama, dan wabah
penyakit menjalar cepat mematikan manusia dan binatang peliharaan.
Menurut Rontal Purana Pasar Agung hal
ini disebabkan karena penduduk Pulau Bali tidak “ngaturang aci” dan
bersembahyang ke Pura Besakih. Ketika pemerintahan Raja Mayadanawa
selama 15 tahun, yaitu sejak tahun 959 Masehi sampai dengan tahun 974
Masehi, rakyat Bali memang benar dilarang ngaturang aci dan
bersembahyang ke Besakih.
Para tentara kerajaan membangun pos
penjagaan pertama di pinggir sungai Balingkang (letaknya di timur pasar
Menanga sedikit lewat jembatan sekarang dikenal dengan pelinggih Yeh
Ketipat) dan kedua, di Pura Manikmas sekarang, untuk menjaga agar tidak
ada penduduk yang datang ke Besakih.
ARTI LAMBANG SWASTIKA DALAM AGAMA HINDU
LAMBANG SWASTIKA HINDU
Swastika merupakan salah satu simbol yang paling disucikan dalam tradisi Hindu, merupakan contoh nyata tentang sebuah simbol religius yang memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang kompleks sehingga hampir mustahil untuk dinyatakan sebagai kreasi atau milik sebuah bangsa atau kepercayaan tertentu.
Diyakini sebagai salah satu simbol tertua di dunia, telah ada sekitar 4000 tahun lalu (berdasarkan temuan pada makam di Aladja-hoyuk, Turki), berbagai variasi Swastika dapat ditemukan pada tinggalan-tinggalan arkeologis ( koin, keramik, senjata, perhiasan atau pun altar keagamaan) yang tersebar pada wilayah geografis yang amat luas.
Langganan:
Postingan (Atom)








