Jumat, 04 Mei 2012
Bab 18 - Lolosnya Takshaka
Ketika Wyasa bersedia memenuhi permohonannya, Parikshit yang memperhatikan dengan seksama, menjawab dengan suara tersendak penuh emosi, “Maharesi, Nanda tidak tahu dengan jelas apa sebabnya kakek Nanda menghancurkan Hutan Khandawa dengan kobaran api. Ceritakan pada ananda bagaimana Sri Krishna menolongnya dalam hal itu. Buatlah ananda bahagia dengan menceritakan kejadian ini kepada nanda.” Parikshit bersujud di kaki Wyasa dan mohon agar
hal ini diceritakan kepadanya. Wyasa memujinya dan berkata, “Baiklah, Nanda mengajukan permohonan yang menambah reputasi Nanda. Akan saya kabulkan.”
Bab 17 - Mengenang Hari-hari Yang Telah Lampau
Maharaja Parikshit mengadakan kunjungan kenegaraan ke seluruh jasirah India, berusaha mempelajari keunggulan administratif dalam pemerintahan para kakeknya dan hubungan unik yang telah mereka jalin dengan Bhagawan Sri Krishna yang pada waktu itu turun ke dunia sebagai manusia. Maharaja mendengarkan pengalaman banyak orang suci serta cendikiawan yang hidup pada masa tenang dan bahagia itu, kemudian ia melanjutkan perjalanan sambil merenungkan kenangan menggembirakan tersebut. Sering ia dilanda penyesalan bila memikirkan bahwa ia tidak hidup pada masa itu, ketika para kakeknya menikmati kebahagiaan surgawi.
Bab 16 - Penghormatan Kepada Krishna
Bila Parikshit mengunjungi wilayah mana saja, para penguasa dan raja wilayah itu siap menyambutnya dengan penuh semangat, dengan penghormatan sipil dan militer yang sesuai. Mereka menyatakan selalu siap mengabdi dengan setia, apapun juga jenis pelayanan yang dikehendakinya dari mereka. Parikshit menjawab bahwa ia tidak memerlukan pelayanan mereka bahwa ia hanya ingin agar mereka mengembangkan kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat yang dipercayakan kepada mereka. Ia menasehati mereka agar memberi perhatian khusus pada perlindungan bagi kaum brahmin serta wanita dan agar merka dilindungi dari marabahaya. Ia menghimbau agar mereka membantu mengembangkan ibadat kepada Tuhan di seluruh wilayah kekuasaan mereka. Hanya itulah permintaan yang diajukannya kepada para raja taklukannya.
Bab 15 - Masa Pemerintahan Maharaja Parikshit
Pandawa berjalan terus dengan pandangan lurus ke depan, menanti saat robohnya tubuh mereka karena kelelahan, dan kematian menyelesaikan karir mereka di dunia. Hati mereka penuh pada emosi yang berkisar pada Sri Krishna, permainan dan senda gurau Beliau; mereka tidak mempunyai pikiran atau perasaan yang lain.
Draupadi, permaisuri mereka, menyeret dirinya hingga agak jauh, tetapi ia menjadi terlalu lemah untuk melanjutkan perjalanan. Ketika ia berseru memanggil-manggil dan memohon, junjungannya tidak berpaling. Draupadi yang sangat cerdas dan berbakti segera sadar bahwa Pandawa bersaudara sedang melakukan nazar yang amat keras dan berat; ia mengerti bahwa ikatan yang
menghubungkan dirinya dengan mereka selama ini telah lepas dan ia harus menghadapi ajalnya. Draupadi jatuh pingsan; ia menghembuskan napas terakhir dengan pikiran terpusat pada Krishna.
Bab 14 - Kepergian Pandawa Bersaudara
Sungguh pemandangan yang menyedihkan. Parikshit, anak laki-laki yang mengenakan mahkota, mendekati kakeknya serta saudara-saudara kakeknya dengan mengiba-iba. Ia memegang erat-erat kaki mereka dan memohon agar agar diijinkan ikut pergi ke hutan menyertai mereka. Ia akan makan akar-akaran dan buah-buahan dengan senang hati, melakukan upacara suci, dan merasa bahagia. “Percayakanlah kemaharajaan ini kepada beberapa menteri yang baik dan ijinkan saya menyertai kakek supaya saya dapat melayani kakek dan membuat hidup saya berati “ demikian ia memohon. Orang-orang di sekitarnya dalam pendapa itu menitikan air mata, terharu melihat kesedihannya karena akan ditinggalkan. Batu-batu cadaspun pasti akan luluh dalam simpati seandainya mereka mendengar kesedihannya.
Bab 13 Parikshit Dinobatkan
Kunti Dewi mengikuti jalan yang ditempuh Shyamasundara (Sri Krishna). Yang tertinggal hanyalah tubuh tanpa nyawa. Arjuna menangis keras-keras, “Kakanda! Apa yang akan saya katakan? Kita telah kehilangan ibu kita.” Dharmaraja yang berdiri di sebelahnya terguncang hebat oleh kejutan itu; ia melangkah mendekati tubuh ibunya dan berdiri terpaku ketika melihat wajahnya yang memucat.
Para dayang di luar pintu mendengar perkataan Arjuna, mereka lalu mengintip ke dalam kamar. Tubuh Kunti Dewi terbaring di lantai. Arjuna meletakan kepala jenasah pada pangkuannya dan menatap wajah ibunya lekat-lekat dengan mata berkaca-kaca. Para dayang keraton saling menyampaikan berita ini; mereka masuk dan menyadari sang Ibu Suri telah meninggalkan mereka, tidak mungkin kembali lagi. Mereka menangis keras-keras ketika mengetahui malapetaka yang meremukan hati ini.
Bab 12 - Zaman Kali Dimulai
Bhima berkata, “ketika di istana Dhritarastra
Krishna ditanya oleh Duryodhana, Dussasana, dan lain-lainnya, mengapa
Beliau menjadi penengah dalam pertengkaran keluarga antara Kaurawa serta
Pandawa dan lebih menyayangi pihak yang satu daripada pihak yang lain
seakan-akan Pandawa merupakan kerabat yang lebih dekat dengan Beliau
daripada Kaurawa, apakah jawaban Sri Krishna. Sekarang berusahalah
mengingat jawaban itu. Bayangkanlah kejadian itu di hadapan Kakanda,
Beliau berjalan hilir mudik seperti anak singa dan mengaum, “Apa yang
Anda katakan? Apakah Kaurawa sama dekatnya kepada saya, seperti Pandawa?
Tidak, mereka tidak akan pernah berada pada tingkat yang sama. Dengar
akan saya beritahukan kepada kalian pertalian keluarga yang mengikat
saya pada Pandawa; untuk badan saya ini, Dharmaraja dapat diibaratkan
dengan kepala, Arjuna dapat iibaratkan dengan bahu dan kedua tangan;
Bhima seperti tubuh; Nakula dan Sahadewa ibarat kedua kaki. Bagi badan
yang tersusun seperti itu, Krishna adalah jantungnya. Anggota tubuh
bergerak dengan kekuatan jantung; tanpa jantung mereka tidak bernyawa.”
Bab 11 - Kesedihan Pandawa
Mendengar perkataan Arjuna, Dharmaraja yang
tenggelam dalam renungan dan sedang mengingat-ingat pertolongan, rahmat,
kasih serta simpati yang telah mereka peroleh dari Sri Krishna,
tiba-tiba menegakkan kepalanya dan bertanya, "Arjuna? Apa yang Adinda
katakan! Malapetaka apa yang Dinda alami di jalan? Ceritakan
selengkapnya kepada kami Adik terkasih!", dan
perlahan-lahan diangkatnya dagu Arjuna ketika menanyakan hal itu. Arjuna menatap wajah kakaknya sambil berkata, "Kakanda, segala keahlian dan
kemampuan saya telah meninggalkan saya bersama dengan Sri Krishna. Sekarang saya tidak memiliki kesaktian apa-apa, tidak mampu berprestasi lagi, lebih
lemah daripada yang paling lemah, sungguh, saya tidak memiliki daya hidup lagi."
perlahan-lahan diangkatnya dagu Arjuna ketika menanyakan hal itu. Arjuna menatap wajah kakaknya sambil berkata, "Kakanda, segala keahlian dan
kemampuan saya telah meninggalkan saya bersama dengan Sri Krishna. Sekarang saya tidak memiliki kesaktian apa-apa, tidak mampu berprestasi lagi, lebih
lemah daripada yang paling lemah, sungguh, saya tidak memiliki daya hidup lagi."
Bab 10 - Misteri Krishna
Bhima berhasil mengumpulkan keberanian. Katanya, “Kakanda, berilah saya izin, maka saya akan segera pergi ke Dwaraka lalu kembali lagi dengan cepat. Saya akan membawa informasi selengkapnya tentang segala yang telah terjadi untuk melenyapkan rasa takut Kakanda.” Pada waktu Bhima berlutut memohon izin, matahari terbenam dan pelita mulai berkelip kelip di berbagai tempat memancarkan cahayanya yang temaram.
Sementara itu seorang pengawal di gerbang utama berlari masuk memberitahukan bahwa Arjuna telah datang dan sedang menuju tempat kediaman raja. Setiap orang bangkit seakan-akan hidup lagi secara mendadak; mereka bergegas menemui Arjuna ingin sekali mendengar kabar dari Dwaraka. Arjuna masuk, muram, amat sedih dan putus asa, sedikitpun tiada kegembiraan yang tersirat pada roman mukanya. Tanpa menatap wajah saudara-saudaranya, ia bersujud di kaki Dharmaraja.
Bab 09 - Kenaikan Sri Krishna
Dharmaraja yang amat sedih atas kepergian paman dan bibinya, Dhritarastra dan Gandhari, tertimpa penderitaan lain yang tidak tertahankan bagaikan jarum yang ditusukkan di dalam kuku. Kemanapun berpaling, ia mulai melihat berbagai pertanda buruk dalam kerajaannya. Ia melihat noda-noda kebohongan, kekejaman, dan ketidakadilan dalam perbuatan orang-orang di sekitarnya. Pertanda buruk menghadang setiap langkahnya dan mengacaukan pandangannya.
Akibatnya, ia dicekam kesedihan yang tidak dapat dijelaskan. Parasnya memucat dirongrong kekhawatiran. Ia selalu resah dan cemas. Adik-adiknya melihat hal ini dan karena mereka sendiri juga menjadi gelisah maka Bhima, Nakula dan Sahadewa menemui kakaknya yang tertua dan mengutarakan keinginan mereka untuk mengetahui penyebab kemurungannya yang aneh. Mereka berdiri di hadapannya dengan tangan tertangkup dan bertanya, “Raja dan junjungan! Dari hari ke hari kami lihat roman muka Kakanda makin suram; tampaknya Kakanda tenggelam dalam kesedihan yang tidak dapat diduga,
Langganan:
Postingan (Atom)