Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Resi "Pasek Dukuh Bunga Asahduren": Memaknai Galungan secara Benar

Minggu, 03 Juni 2012

Memaknai Galungan secara Benar

BALI, 31 Januari 2012 (Bali Post) :
Rabu besok, 1 Februari 2012, masyarakat Hindu di Bali akan merayakan hari raya Galungan. Karena berulang setiap enam bulan sekali, kesannya seperti rutitas saja. Tetapi tentu dari segi pemaknaan, kita tidak boleh memandang sebagai rutinitas belaka. Secara sosial, pemahaman Galungan sebagai hal yang bersifat rutin sangat berbahaya karena pesan yang dimaknakan dalam hari tersebut akan jauh menyimpang. Pemahaman akan Galungan sebagai hal yang bersifat rutin akan membuat manusia Hindu (Bali) sekadar membuat penjor, mempersiapkan makanan atau sekadar datang ke pura saja. Setelah itu selesai karena hal yang bersifat rutin sudah dikerjakan, untuk selanjutnya begitu lagi terulang enam bulan berikutnya. Sekali lagi, ini berbahaya. Padahal, makna hari raya Galungan adalah merayakan kemenangan dharma melawan
adharma, kemenangan kebaikan melawan keburukan, kebenaran melawan ketidakbenaran. Itu yang harus dimaknai secara mendalam. Artinya, kebenaran atau kebaikan itu harus kita refleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita mampu memaknai Galungan dengan cara demikian, pengaruhnya sangat luas. Katika kita bekerja keras melaksanakan pekerjaan kita utuk mencapai tujuan yang benar, itu juga sebuah kebaikan dan kebenaran. Agama selalu mengajarkan dan memberi petunjuk kepada kita untuk bekerja keras berada dalam jalur yang benar. Galungan, dengan demikian, juga bisa kita maknai sebagai patokan untuk berperilaku.
Jika kita memaknai Galungan secara benar, tidak akan mungkin orang berperilaku koruptif karena perilaku itu bukanlah hal yang benar dan baik. Bagi seorang pelajar, pemaknaan Galungan jelas menciptakan kerja keras untuk mencapai cita-cita, dan kejujuran (tidak curang dalam ujian), rajin bersekolah dan taat akan peraturan institusi pendidikan yang ada. Semua ini adalah perilaku-perilaku yang benar dan baik.
Yang kita khawatirkan sekarang, justru yang terjadi sebaliknya. Di tengah kompetisi hidup yang begitu ketat, banyak yang tidak memahami arti Galungan sehingga perilaku hidupnya banyak yang menyimpang. Orang tidak lagi mengindahkan tata krama hidup, sehingga kestabilan sosial menjadi terganggu. Ini akibat pemaknaan hari raya yang salah. Barangkali penyimpangan-penyimpangan sosial yang terjadi diakibatkan oleh pemaknaan Galungan yang sekadar rutinitas belaka. Itulah yang kita lihat mengkhawatirkan belakangan ini.
Kita lihat ada anggota masyarakat yang jor-joran membuat penjor, saling berlomba untuk membuat penjor yang mahal sehingga aksesorisnya justru kacau. Atau mereka juga jor-joran memakai pakaian mahal ke pura sehingga mirip kontes pakaian adat. Sekali lagi kita tekankan, jika memang terjadi hal seperti ini, segeralah hentikan segala yang berbau jor-joran tersebut karena itu bukan memperlihatkan makna Galungan yang sesungguhnya. Perilaku jor-joran ini tidak baik, tidak benar, dan justru menimbulkan potensi konflik. Ini sungguh merugikan bagi masyarakat Bali.
Kita menginginkan pelaksanaan upacara yang sederhana tetapi menyentuh makna yang terdalam. Dengan demikian, hari raya Galungan mempunyai pesan yang sangat universal. Ia tidak saja bisa dipelajarai dan dihayati oleh mereka yang beragama Hindu (di Bali) tetapi juga oleh agama-agama lain di berbagai belahan dunia ini. Seperti juga halnya hari raya Nyepi, di mana kini telah disadari bagaimana pentingnya kita mengekang kelobaan diri di zaman yang serba cepat ini, dengan hari raya Galungan kita ditekankan untuk selalu berbuat baik dan benar, tidak membuat konflik, tidak membuat gaduh dan selalu memberikan inspirasi positif kepada masyarakat.
Kita juga diingatkan bahwa untuk menjadi manusia baik itu memerlukan perjuangan dan kerja keras. Itulah barangkali yang membuat kita setiap enam bulan selalu diingatkan untuk merayakan hari raya Galungan.
Mari lindungi diri kita dari perilaku-perilaku yang jahat agar hidup selalu bisa dinikmati dengan kualitas yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar